Demi Melihat Wajah Anaknya Pieter Rela Berjalan Jauh Cari Sinyal
ANEWS.co, NAGEKEO - Bencana alam tidak pernah hanya meninggalkan kerusakan pada fondasi beton dan dinding-dinding bangunan. Di balik reruntuhan fisik yang diakibatkan oleh guncangan gempa bumi di Flores, ada jalinan kerinduan dan kecemasan mendalam yang tak kasat mata dari para penyintas yang terisolasi dari dunia luar.
Salah satu potret keteguhan hati di tengah masa pemulihan ini datang dari wilayah perbukitan Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dari sebuah bukit sekitar setengah kilometer dari rumahnya, Pieter Petrus Bernabas Bado, seorang ayah berusia 57 tahun, pernah berulang kali mencari sinyal demi satu hal sederhana melihat wajah anaknya di Makassar. Jarak fisik yang membentang antara Pulau Flores dan Sulawesi terasa kian menyiksa ketika bumi yang ia pijak bergetar, memicu rasa panik yang menjalar hingga ke dada seorang bapak.
Setelah gempa mengguncang Flores, keinginan Pieter untuk memastikan anaknya baik-baik saja menjadi semakin kuat.
Bagi seorang kepala keluarga, mengetahui kondisi darah dagingnya di perantauan adalah sebuah kewajiban moral yang tidak bisa ditawar oleh keadaan sesulit apa pun. Namun, kondisi jaringan komunikasi di Desa Riti, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, yang berada di kawasan perbukitan, membuat komunikasi dengan keluarga tidak selalu mudah.
Medan berbukit yang indah di kala normal berubah menjadi dinding penghalang gelombang sinyal yang tebal pascabencana melanda. Untuk sekedar melakukan panggilan video, Pieter harus berjalan kaki melintasi jalanan menanjak menuju puncak bukit terdekat dari tempat tinggalnya.
Perjalanan sejauh setengah kilometer di bawah bayang-bayang trauma gempa bumi susulan bukan perkara ringan bagi seorang pria paruh baya. Namun, motivasi untuk menatap layar gawai dan melihat senyuman sang anak mampu mengalahkan rasa lelah di kakinya. Dalam beberapa kesempatan, ia tercatat sudah tiga kali melakukan perjalanan sunyi itu demi mengabari anaknya di Makassar.
Bagi Pieter, teknologi panggilan video di era modern bukan sekadar tentang berbicara atau mendengarkan suara. Ada rasa lega psikologis yang tak ternilai harganya ketika layar telepon akhirnya memperlihatkan wajah anaknya di Makassar.
Melalui tatap muka digital tersebut, Pieter bisa mendengar suara anaknya secara langsung, sekaligus mengabarkan bahwa dirinya di desa berada dalam keadaan selamat dan baik-baik saja. Begitu pula sebaliknya, ia dapat memastikan kondisi anaknya dari kejauhan tanpa ada rasa curiga atau cemas yang menggantung.
“Yang penting bisa lihat anak dan bisa saling mengabari. Saya juga merasa tenang kalau sudah dengar suara dan lihat anak,” tutur Pieter Bernabas Bado dengan nada suara yang bergetar penuh keharusan emosional.
Kisah Pieter merupakan cerminan dari ratusan warga pedalaman Nagekeo yang harus berjuang melawan sunyinya komunikasi pascabencana.
Melalui tulisan feature ini, tergambar jelas bahwa di balik dinginnya statistik dampak gempa, ada detak jantung para orang tua yang rela melangkah jauh ke puncak sunyi, menantang letih, hanya demi memastikan jalinan kasih sayang keluarga mereka tidak terputus oleh amukan alam.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Post a Comment