PMI dan IPB Gulirkan Solusi Berbasis Alam di 7 Desa Manggarai
ANEWS.co, Manggarai— Tantangan perubahan iklim dan risiko bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir kini menuntut inovasi yang melampaui pembangunan fisik konvensional. Menjawab tantangan tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University resmi meluncurkan pemaparan hasil kajian serta survei lapangan terkait pendekatan Nature-based Solutions (NbS) atau Solusi Berbasis Alam.
Kegiatan strategis ini dikemas dalam bentuk diskusi interaktif bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai dan perwakilan dari 7 desa/kelurahan dampingan. Pertemuan krusial tersebut berlangsung di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Manggarai pada Senin, 22 Juni 2026.
Langkah maju ini merupakan pilar utama dari program Empowering Local Entities and Communities To Take Rapid Action (ELECTRA). Program dedikatif ini dijalankan oleh PMI Kabupaten Manggarai melalui dukungan penuh dari Palang Merah Amerika (American Red Cross / AmCross).
Memahami Konsep Nature-Based Solutions (NbS)
Apa Itu Solusi Berbasis Alam?
Nature-based Solutions (NbS) merupakan sebuah pendekatan sistematis yang mengacu pada pengelolaan, perlindungan, dan pemulihan ekosistem alam secara berkelanjutan. Metode ini tidak hanya berfokus pada kelestarian lingkungan, tetapi juga dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan sosial-ekonomi masyarakat lokal secara langsung.
Tantangan global dan lokal yang dapat diselesaikan melalui pendekatan NbS meliputi:
- Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ekstrem.
- Jaminan keamanan dan mengatasi polusi air bersih.
- Penguatan ketahanan pangan tingkat domestik.
- Peningkatan kualitas kesehatan manusia.
- Penataan kawasan urbanisasi yang ramah lingkungan.
- Menahan laju hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity).
- Manajemen dan pengurangan risiko bencana (PRB) berbasis komunitas.
Jasa Ekosistem sebagai Fondasi Utama
Ketua Tim PKSPL IPB University, Andi Afandy, menerangkan secara rinci bahwa kajian NbS yang dilakukan di Manggarai merupakan langkah konkret untuk menyelesaikan masalah kerentanan wilayah dengan memanfaatkan potensi alam. Dasar utama dalam mengembangkan dan menyusun strategi NbS adalah optimalisasi munculnya jasa ekosistem (ecosystem services). Jasa ekosistem inilah yang nantinya akan bekerja secara alami untuk melindungi wilayah pemukiman dan pertanian warga dari ancaman kerusakan lingkungan.
Mengawinkan Teknologi Sipil dan Kelestarian Alam
Kelemahan Bronjong Konvensional
Selama ini, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis umumnya menyelesaikan permasalahan tanah longsor di Kabupaten Manggarai menggunakan pendekatan teknik sipil murni. Salah satu contoh yang paling sering dijumpai adalah pembangunan struktur beton atau anyaman kawat berisi batu (bronjong).
Meskipun efektif dalam jangka pendek, infrastruktur fisik ini memiliki kelemahan struktural yang signifikan, yaitu adanya batas umur teknis. Ketika kawat bronjong mulai berkarat, rapuh, atau hancur termakan usia, struktur penahan tanah akan runtuh. Akibatnya, bencana tanah longsor yang sama akan kembali terjadi di lokasi tersebut dan menelan biaya perbaikan yang besar.
Kolaborasi Struktur dan Vegetasi
Hadirnya pendekatan NbS menawarkan opsi pilihan program alternatif yang jauh lebih berkelanjutan bagi OPD dan komunitas. Konsep utama dari pendekatan ini adalah melakukan perpaduan harmonis antara rekayasa teknik manusia dan kekuatan vegetasi alam.
“Harapannya NbS hadir untuk memadukan teknis dengan alam seperti bronjong tadi dengan umur tanaman yang akan kita tanam sesuai fungsinya masing-masing,” ungkap Andi Afandy di hadapan para peserta diskusi.
Melalui formula kolaborasi ini, ketika umur teknis kawat bronjong sudah habis dalam beberapa tahun ke depan, fungsi penahan tebing dan stabilitas tanah telah sepenuhnya diambil alih oleh jaringan akar tanaman yang sudah tumbuh besar, kokoh, dan mencengkram bumi secara mendalam.
Manfaat Ganda: Mitigasi Bencana dan Sektor Ekonomi
Keberlanjutan Ekosistem dan Produktivitas
Satu hal yang membedakan NbS dengan program mitigasi biasa adalah cakupan dampaknya yang multifaset. Pendekatan ini tidak sekadar menanam pohon sembarangan demi mencegah erosi, melainkan memilih jenis vegetasi spesifik yang memiliki fungsi ganda (multi-purpose tree species).
Sebagai contoh nyata di lapangan, masyarakat didorong untuk menanam tanaman keras yang memiliki kemampuan mengikat tanah sangat kuat demi menahan longsor. Di sisi lain, daun, bunga, atau buah dari tanaman tersebut harus bisa dikonsumsi secara harian oleh warga, atau dipanen untuk diolah menjadi produk lokal yang bernilai jual tinggi.
Dampak Lokal yang Beresonansi Global
Integrasi program ini memadukan tiga komponen utama pembangunan desa secara sekaligus:
- Rehabilitasi Ekosistem: Mengembalikan fungsi alami hutan dan daerah aliran sungai yang rusak.
- Pengurangan Risiko Bencana: Melindungi keselamatan jiwa warga dan aset infrastruktur desa dari ancaman longsor.
- Pengembangan Ekonomi Masyarakat: Membuka keran pendapatan baru melalui hasil panen vegetasi mitigasi.
"NbS juga bisa dipadukan dengan yang lain yaitu rehabilitasi ekosistem dengan pengurangan risiko bencana dan rehabilitasi dengan pengembangan ekonomi masyarakat. NbS itu levelnya di tingkat desa, tapi impaknya bisa global," lanjut Andi menekankan pentingnya program berskala komunitas ini.
Kesiapan 7 Desa Program ELECTRA di Manggarai
Komitmen Mandiri dari Desa Terong
Respons positif dan antusiasme tinggi datang dari para kepala desa yang wilayahnya menjadi lokus program ELECTRA. Kepala Desa Terong, Theodorikus Atong, mengungkapkan bahwa pendekatan ilmiah berbasi alam ini memberikan perspektif baru yang sangat segar dan mencerahkan bagi jajaran pemerintah desa dan warganya.
Bagi pihak pemerintah desa, kehadiran tim ahli dari IPB University dan fasilitator PMI bukan sekadar membawa bantuan fisik, melainkan menjadi sebuah proses pembelajaran transfer ilmu (knowledge transfer) yang sangat berharga agar masyarakat melek terhadap karakteristik kerentanan wilayah mereka sendiri.
“Kami akan berkolaborasi bersama masyarakat sampai pada tahapan-tahapan terakhir hingga program ini akan kami kembangkan secara mandiri oleh desa,” tegas Theodorikus penuh optimisme.
Integrasi ke Dalam RPJMDes
Pemerintah Desa Terong memastikan tidak akan membiarkan program ini berhenti begitu saja ketika masa kontrak atau pendampingan program ELECTRA PMI selesai di kemudian hari. Guna menjamin keberlanjutan program jangka panjang, hasil kajian risiko dan rekomendasi NbS ini akan langsung dimasukkan ke dalam skala prioritas dokumen perencanaan pembangunan desa, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Dengan demikian, pemeliharaan dan pengembangan kawasan NbS dapat didanai secara legal dan mandiri menggunakan pos Anggaran Dana Desa (ADD).
Strategi Bertahan Hidup Berbasis Kajian Risiko
Membaca Dokumen Kerentanan Wilayah
Koordinator Program ELECTRA PMI Kabupaten Manggarai, Tommy Hikmat, menjelaskan bahwa implementasi fisik dari Solusi Berbasis Alam ini tidak dilakukan secara acak atau berbasis asumsi semata. Seluruh pilihan jenis intervensi dan pemilihan lokasi penanaman didasarkan secara ketat pada dokumen kajian risiko bencana resmi.
Dokumen ilmiah tersebut memuat data komparatif yang presisi mengenai:
- Peta Kerentanan (Vulnerability): Mengidentifikasi area hutan penutup yang gundul, lereng curam rawan longsor, serta jalur aliran air yang berpotensi memicu banjir bandang di permukiman.
- Kapasitas Masyarakat (Capacity): Mengukur sejauh mana kesiapan dan pemahaman warga lokal dalam menghadapi situasi darurat bencana.
Pelatihan Mata Pencaharian Alternatif
Tommy Hikmat menambahkan bahwa tantangan alam di wilayah Manggarai yang berbukit sering kali membatasi ruang gerak masyarakat untuk mencari nafkah. Oleh karena itu, agar warga tidak melakukan eksploitasi merusak terhadap hutan penahan longsor, program ELECTRA membekali mereka dengan program livelihood atau pelatihan mata pencaharian alternatif.
Warga diajarkan cara mengolah hasil komoditas tanaman NbS, teknik budidaya ramah lingkungan, hingga manajemen keuangan kelompok. Melalui cara ini, masyarakat mendapatkan kapasitas baru untuk tetap bertahan hidup secara sejahtera (survive) tanpa harus merusak ekosistem penyangga di sekitar mereka.
Sinergi Lintas Sektor demi Manggarai Tangguh Bencana
Apresiasi dan Refleksi Bapperida
Apresiasi mendalam terhadap hasil kerja keras kolaboratif ini disampaikan langsung oleh Fransiskus Patrisius Dani, ST, selaku Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kabupaten Manggarai.
Setelah mendengarkan pemaparan komprehensif mengenai hasil kajian dan temuan lapangan dari Tim PKSPL-IPB, beliau merefleksikan bahwa pola penanganan bencana kedaruratan di Kabupaten Manggarai selama ini memang masih menyisakan ruang evaluasi yang besar, terutama dalam hal pemeliharaan lingkungan jangka panjang.
Bapperida berharap penuh agar dokumen kajian NbS ini tidak hanya menjadi pajangan di rak arsip, melainkan bertransformasi menjadi landasan utama, kompas, dan cetak biru (blueprint) bagi penyusunan rencana pembangunan daerah di masa yang akan datang.
Kolaborasi Dua Mazhab Solusi
Kabupaten Manggarai ke depan diharapkan mampu memadukan dua pendekatan infrastruktur secara seimbang demi hasil yang optimal bagi keselamatan masyarakat:
“Kami berharap apa yang kita bicarakan hari ini akan menjadi suatu landasan untuk perencanaan pembangunan yang akan datang. PMI dengan Nature-based Solution, PUPR dengan Cement-based Solution. Ketika program ini dikolaborasikan, maka kembali ke alam adalah solusinya,” tegas Fransiskus dengan mantap.
Daftar Wilayah dan Unsur yang Terlibat
Keberhasilan implementasi program ELECTRA di lapangan tidak terlepas dari solidnya sinergi pentaheliks di tingkat kabupaten hingga tingkat tapak desa. Kegiatan pemaparan hasil kajian ini dihadiri dan dikawal langsung oleh berbagai elemen penting.
Unsur Pemerintah Kabupaten Manggarai:
- Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida)
- Dinas Lingkungan Hidup (DLH)
- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
- Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)
- Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kehutanan
7 Desa/Kelurahan Lokus Program ELECTRA PMI:
- Desa Terong
- Desa Hilihintir
- Desa Cambir Leca
- Desa Robek
- Desa Para Lando
- Desa Lemarang
- Kelurahan Wangkung
Seluruh perwakilan Kepala Desa, Lurah, beserta para relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dari ketujuh wilayah di atas hadir secara aktif dalam sesi diskusi kelompok terarah. Jalannya seluruh rangkaian kegiatan ini didampingi secara melekat oleh Tim Fasilitator ahli dari PKSPL IPB University, perwakilan AmCross selaku donor utama, pengurus PMI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), serta jajaran staf dan relawan dari PMI Kabupaten Manggarai selaku motor penggerak program di daerah.
Melalui komitmen bersama yang tertanam sejak dalam proses perencanaan ini, langkah mitigasi bencana di Kabupaten Manggarai kini memasuki babak baru yang lebih hijau, bernilai ekonomis, dan tangguh secara mandiri demi keselamatan generasi masa depan.
Penulis: Adrian Jr.
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment