Refleksi 66 Tahun PMII: Menjaga Nalar Kritis, Merawat Indonesia
anews.co, Ponorogo - Enam puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah organisasi pergerakan untuk bertahan, apalagi tetap relevan. Sejak kelahirannya pada 17 April 1960 di Surabaya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah memahat jejak sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di usia yang ke-66 ini, PMII tidak hanya sekadar merayakan angka, tetapi juga menegaskan kembali posisinya sebagai benteng intelektual dan moral bangsa.
Jembatan Antara Agama dan Kebangsaan
Salah satu sumbangsih terbesar PMII bagi NKRI adalah keberhasilannya dalam mendamaikan semangat religiusitas dengan nasionalisme. Di tengah gempuran ideologi transnasional yang terkadang mempertentangkan antara menjadi "Muslim yang taat" dan "Warga Negara yang baik," PMII hadir dengan konsep Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta tanah air adalah sebagian dari iman).
Melalui paradigma ini, PMII membuktikan bahwa nilai-nilai Islam Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) adalah fondasi kuat untuk menjaga kemajemukan Indonesia.
Harlah ke-66 ini harus menjadi momentum autokritik. PMII tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu atau sekadar menjadi "underbouw" kepentingan politik praktis. Kekuatan PMII terletak pada kemandirian berpikir dan keberpihakan pada kebenaran.
"PMII adalah rumah bagi para intelektual organik. Jika ia berhenti mengkritik ketidakadilan, maka ia kehilangan ruh pergerakannya."
Selamat Harlah ke-66 PMII! Teruslah menjadi kawah candradimuka bagi pemimpin masa depan. Di pundak kalian, beban untuk merawat persatuan NKRI dan mengawal keadilan sosial diletakkan. Tetaplah berzikir, berpikir, dan beramal saleh untuk Indonesia yang lebih bermartabat.
Tangan Terkepal dan Maju Ke Muka
Penulis: MR ROSANDY (Anggota IKA PMII Cabang Sidoarjo)
Editor: Redaksi
Further Reading:

Post a Comment