Posko Ditutup Setelah Pengungsi Pulang, Pendampingan Warga Manggarai Berlanjut
ANEWS.co, MANGGARAI – Pulangnya warga dari pengungsian tidak serta-merta menandai berakhirnya persoalan setelah bencana. Ketika posko mulai ditutup dan masyarakat kembali ke rumah masing-masing, kebutuhan kemanusiaan justru memasuki fase berbeda: dari penanganan darurat menuju proses pemulihan.
Peralihan tersebut sedang berlangsung di Kabupaten Manggarai. Pada Rabu (30/9/2026), aktivitas posko pengungsian mulai berakhir seiring kepulangan warga.
PMI Kabupaten Manggarai kemudian menutup posko sebagai bagian dari berakhirnya salah satu fase penanganan darurat. Namun, pelayanan kepada masyarakat tidak berhenti bersama penutupan posko.
Pola pelayanan berubah mengikuti kondisi warga.
Jika sebelumnya berbagai aktivitas terpusat di tempat pengungsian, setelah warga pulang dukungan diarahkan ke komunitas dan wilayah yang masih memiliki kebutuhan pascabencana.
Layanan tersebut mencakup kesehatan, promosi kesehatan, dukungan psikososial atau Psychosocial Support Services (PSS), Water, Sanitation and Hygiene (WASH), serta bantuan kemanusiaan lainnya.
Perubahan itu memperlihatkan bahwa masa pemulihan memiliki tantangan berbeda dengan masa ketika warga masih berkumpul di pengungsian.
Salah satu kebutuhan yang masih ditemukan adalah air bersih.
Dede selaku koordinator layanan WASH menyebut kebutuhan air belum hanya terkonsentrasi pada satu kawasan.
“Setelah penutupan posko, kami melihat ada beberapa titik wilayah yang masih membutuhkan air bersih yaitu, di Puskesmas Reo, Gumbang, Wae Poti, Nderu, Coca, Nggorang, Wae Pesi, Gincu Barat, Gincu Timur, Mukang Golo, Jengkalang, hingga Nanga Na'e dan Kampung Baru di Desa Para Lando,” ungkap Dede.
Sebaran tersebut memberi gambaran mengenai tantangan setelah pelayanan berbasis posko berakhir.
Ketika masyarakat berada di pengungsian, pelayanan dapat dipusatkan pada lokasi tempat warga berkumpul. Setelah mereka kembali, kebutuhan ikut tersebar ke sejumlah wilayah sehingga pelayanan perlu menyesuaikan jangkauan.
Air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang tetap harus ditangani dalam kondisi tersebut.
Pada 30 September 2026, PMI Kabupaten Manggarai juga memberikan bantuan berupa tandon atau profil tank dan melakukan instalasi agar fasilitas tersebut dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
“Hari ini tanggal 30 September 2026, PMI Kabupaten Manggarai memberikan bantuan berupa tandon atau profil tank, lalu menginstalasinya supaya masyarakat bisa langsung menggunakannya,” kata Ancik Apul.
Pemasangan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa respons mulai bergerak dari pelayanan ketika warga berada di pengungsian menuju dukungan yang dapat digunakan di lingkungan masyarakat.
Namun, pemulihan bukan hanya mengenai kebutuhan fisik.
Setelah warga pulang, dampak psikologis bencana juga masih menjadi bagian yang perlu diperhatikan. PMI Kabupaten Manggarai menjalankan layanan PSS, termasuk melalui psychological first aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.
Saat layanan dilaksanakan di Dusun Wakal, Desa Kentol, relawan PMI Kabupaten Manggarai Kristina M. Beda menemukan adanya perubahan kondisi kecemasan pada sebagian masyarakat.
“Saat melakukan PFA kami menemukan bahwa tingkat kecemasan warga sudah berkurang, tetapi mereka masih khawatir akan tempat tinggal yang tidak nyaman karena rusak,” ungkap Kristina.
Temuan itu memperlihatkan lapisan lain dari proses pulang.
Kembali ke rumah dapat menjadi perkembangan penting setelah seseorang menjalani masa pengungsian. Namun jika bangunan mengalami kerusakan atau kondisi tempat tinggal belum nyaman, kepulangan tersebut belum tentu menghilangkan seluruh kekhawatiran.
Karena itu, fase pemulihan tidak bisa hanya diukur dari kosongnya tenda pengungsian.
Ada kebutuhan kesehatan yang harus diperhatikan, persoalan air dan kebersihan yang perlu ditangani, serta kondisi psikologis masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Pada fase ini, relawan tetap menjangkau warga dengan menyesuaikan pelayanan terhadap kebutuhan yang ditemukan di lapangan. Edukasi kesehatan, pelayanan kesehatan, PSS dan WASH menjadi bagian dari kelanjutan respons tersebut.
Penutupan posko pada akhirnya merupakan sebuah indikator bahwa satu tahap sudah dilewati, bukan penanda bahwa kehidupan seluruh warga telah pulih.
Perjalanan berikutnya justru berlangsung di rumah, dusun dan komunitas tempat masyarakat kembali menjalani kesehariannya.
Di sana, ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada berapa banyak warga yang sudah meninggalkan pengungsian. Kemampuan masyarakat mendapatkan kembali air bersih, menjalani aktivitas secara lebih layak dan mengurangi kecemasan terhadap kondisi kehidupan menjadi bagian dari proses yang lebih panjang.
Posko boleh selesai menjalankan fungsinya. Namun selama kebutuhan pascabencana masih ditemukan, fase pemulihan masyarakat Manggarai masih berjalan.
ANGLE
PAHAMI: mengupas makna penutupan posko sebagai peralihan fase, bukan berakhirnya kebutuhan warga, dengan air bersih, kondisi rumah, kesehatan dan psikologis sebagai indikator tantangan pemulihan.
FOTO UTAMA
Relawan mendampingi masyarakat setelah warga meninggalkan lokasi pengungsian.
NAMA FILE FOTO
pemulihan-pascabencana-pengungsi-pulang-manggarai.jpg
ALT FOTO
Relawan mendampingi warga Manggarai dalam masa transisi dari pengungsian menuju pemulihan pascabencana.
CAPTION + KREDIT
Layanan kemanusiaan tetap berlanjut setelah warga secara bertahap meninggalkan pengungsian dan kembali ke lingkungan masing-masing di Kabupaten Manggarai. Foto: PMI Kabupaten Manggarai
SUMBER + BYLINE
Sumber: Informasi kegiatan PMI Kabupaten Manggarai
Byline: Redaksi ANEWS.co
Post a Comment