Dari Takut Menjadi Bahagia, Kisah Mala dan Donor Darah ke-50 Syaakira
ANEWS.co, JAYAPURA – Mala sempat takut dan deg-degan ketika hendak duduk di kursi donor darah di Markas PMI Provinsi Papua, Jalan Trikora No. 7, Jayapura, Kamis (17/9/2026).
Bukan tanpa alasan. Bagi staf BNI Papua tersebut, hari itu adalah pengalaman pertamanya menjadi pendonor darah.
Namun setelah proses donor berhasil dilalui, ketegangan tersebut berubah menjadi kelegaan dan kebahagiaan.
Di tempat yang sama, Syaakira Mahardika menjalani perjalanan yang sangat berbeda.
Perempuan berusia 28 tahun itu telah rutin mendonorkan darah sejak berusia 17 tahun. Tepat pada HUT ke-81 Palang Merah Indonesia, Syaakira mencatatkan donor darahnya yang ke-50.
Satu baru memulai. Satu sudah mencapai 50 kali.
Keduanya bertemu melalui tujuan yang sama: berbagi kepada sesama.
Mala, dari Pernah Membutuhkan Darah Kini Menjadi Pendonor
Keputusan Mala menjalani donor pertamanya dilatarbelakangi pengalaman pribadi.
Ia pernah menjalani operasi dan berada dalam posisi sebagai orang yang membutuhkan darah.
Pengalaman mendapatkan pertolongan tersebut membekas. Sejak saat itu, Mala memiliki keinginan untuk suatu hari melakukan hal serupa bagi orang lain.
“Dulu saya pernah membutuhkan darah saat operasi dan mendapat bantuan dari PMI. Sejak itu saya ingin sekali bisa membantu sesama melalui donor darah,” cerita Mala.
Keinginan itu akhirnya terealisasi tepat pada HUT ke-81 PMI.
Tetapi sebagai pendonor pertama, Mala mengakui tetap ada rasa takut.
“Awalnya takut dan deg-degan. Tapi setelah berhasil donor rasanya lega dan bahagia banget. Semoga darah saya bisa bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan,” ungkapnya.
Hari itu membawa perubahan kecil tetapi bermakna.
Dahulu Mala pernah menunggu darah dari orang lain ketika membutuhkannya. Kini darah yang ia sumbangkan mungkin akan membantu seseorang yang sedang berada dalam situasi serupa.
11 Tahun Berdonor, Syaakira Mahardika Akhirnya Sampai di Angka 50
Jika Mala baru memulai, Syaakira telah melewati perjalanan panjang sebagai pendonor sukarela.
Syaakira mulai mendonorkan darah sejak usia 17 tahun.
Kini pada usia 28 tahun, tepat di hari jadi PMI yang ke-81, jumlah donornya mencapai 50 kali.
Bagi Syaakira, angka itu bukan hanya sebuah pencapaian.
Ia melihatnya sebagai pengingat bahwa selama bertahun-tahun dirinya masih mendapatkan kesehatan dan kesempatan untuk berbagi.
“Saya bersyukur sejak umur 17 tahun sudah rutin berdonor darah dan hari ini tepat yang ke-50 kali. Artinya, selama ini saya masih diberi kesehatan dan masih dipercaya untuk berbagi kebaikan,” ujar Syaakira.
Ia ingin mempertahankan kebiasaan tersebut selama kondisi kesehatannya masih memungkinkan.
“Bagi saya ini bentuk ikhlas dan rasa syukur. Selama masih sehat dan masih bisa donor, saya ingin terus berbagi,” katanya.
Mengapa PMI Papua Memilih Perayaan Sederhana?
Di balik kebahagiaan para pendonor, ada keprihatinan yang menyertai HUT ke-81 PMI.
Ketua PMI Provinsi Papua, Zakius Degei, ST, mengatakan peringatan tahun ini sengaja dibuat sederhana karena berbagai persoalan kemanusiaan masih dihadapi masyarakat.
“Kami merayakan HUT ke-81 PMI kali ini dengan sederhana karena mengingat saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana di berbagai daerah. Di Papua sendiri kami prihatin dengan masyarakat di Lanny Jaya yang menghadapi cuaca ekstrem, di Nabire yang masih diselimuti kabut asap tebal, serta Kota Jayapura yang baru saja mengalami kebakaran besar,” ujar Zakius.
Rangkaian HUT di Jayapura diawali dengan doa bersama internal PMI, kemudian dilanjutkan dengan pelayanan donor darah sukarela untuk masyarakat.
Pendonor yang hadir mendapatkan bingkisan sembako. Sejumlah mitra PMI Papua juga ikut berbagi dengan menyediakan jamuan untuk masyarakat dan para pendonor.
Acara yang dirancang sederhana ternyata mendapat respons besar.
Hingga malam, warga masih mendatangi Unit Donor Darah PMI Provinsi Papua untuk menyumbangkan darah secara sukarela.
Hadiah HUT Berupa Darah untuk Sesama
Berbagai ucapan selamat disampaikan para pendonor untuk PMI.
Mereka berharap di usia ke-81, PMI semakin maju, sukses, dan semakin dekat dengan masyarakat.
Namun mungkin hadiah paling bermakna pada hari itu justru datang dari lengan para pendonor.
Mereka memberikan sebagian darahnya untuk orang yang bahkan mungkin tidak pernah mereka kenal.
Di ruang donor yang sama, Mala menunjukkan bahwa rasa takut dapat dikalahkan oleh keinginan membantu.
Syaakira menunjukkan bahwa sebuah tindakan sederhana dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang dipertahankan selama bertahun-tahun.
Mala berada pada donor pertama.
Syaakira telah mencapai donor ke-50.
Perjalanan mereka terpaut jauh, tetapi keduanya menggambarkan semangat yang sama dari HUT ke-81 PMI: Peduli, Bergerak, Bersama.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi

Post a Comment